
SMAN Binaan Khusus Dumai Riau
Jl. Inpress Purnama Dumai Barat
Ini adalah kisah nyata yang terjadi sekitar tahun 2007
Siang itu hari rabu ntah tanggal berapa aku pun lupa, yang kuingat temanku Rio asli keturunan Tionghoa mengeluarkan selembar kertas dalam lacinya. Dengan iseng dia berkata “Main jelangkung yuk! Ada yang punya uang logam nggak?”. Beberapa teman-temanku ( anak laki2 saja, tw yg cwek pd kmn? )yang sedang istirahat di kelas selepas mengikuti pelajaran olahraga meresponnya dengan hangat sambil menunggu guru mata pelajatan berikutnya masuk kelas. Permainan pun dimulai, dua orang diantara kami berada di tengah dan yang lain berkumpul mengelilingi termasuk diriku. Permainan jelangkung di daerah kami( DUMAI=Oil City) tidaklah seperti jelangkung yang ada di film horror, hanya berupa sebuah uang logam terserah mau pakai uang berapa, selembar kertas yang bertuliskan huruf alpabhet angka o sampai 9, kata YA dan TiDAK. Uang logam diletkkan di atas kertas dipegang oleh 2 orang dengan menggunakan jari telunjuk yang agak dilemaskan, kemudian di putar dengan satu irama yang sama sambil mengucapkan mantra jelangkung. Setelah mantra selesai dinyanyikan uang diberhentikan. Tersenyum diriku melihat mereka yang bermain dengan sangat serius, apalagi dari dulu aku tak pernah percaya dengan permainan ini,” tahayul” pikirku dalam hati.
Uang logam itu mulai bergerak, semua mata yang menonton tertuju pada benda itu. “Kau yang gerakin ya?”.” Gak ah bukan aku”. Ini dialog yang sering kali muncul dalam dunia perjelangkungan dan menandakan bahwa makhluk yang dipanggil telah datang. Sebenarnya inilah saat saat yang mengasyikkan sekaligus mendebarkan, karena pada saat itu rasa penasarn kembali memacu hormon adrenalin kita. Salah satu dari mereka berdua bertanya ”Nama kamu siapa? Dan pada saat meninggal kamu umur berapa?”. Uang logam bergerak pelan menunjukkan huruf –huruf dan angka angka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dan kemudian berhenti. “Nina, 4” maksudnya namanya Nina dan berumur 4 tahun. “Apakah hantu anak TK nol kecil sudah bisa ngerti bacaan?”, hatiku kembali bertanya, ada sebagian penonton mendesis pelan karna takut kalau berbicara keras akan diikuti ketika pulang ke rumah. Dalam permainan etika juga harus dijaga baik itu si pemain ataupun yang menonton.
Akhirnya karena penasaran, yang menonton pun ikut melontarkan sebuah pertanyaan, “Apa kelas ini aka ada murud baru pindahan?”. Maklumlah pada saat itu sekolah kami khususnya kelas 2 banyak murid pindahan dari daerah lain yang masuk di awal semester. Terlebih lagi hanya kelas kami yang belum pernah dimasuki murid baru diantara kelas-kelas yang lain.
Hantu anak perempuan ini pun menjawab dengan menggerakkan uang ke kata YA.” Pindahan dari daerah mana?” balas si penanya. Uang logam bergerak kea rah dimana huruf berkumpul dan menunjukkan sebuah kata “ B E N G K A L I S”. Kota sebrang yang tak jauh dari Dumai, hanya memakan 1 jam untuk pergi ke sana dengan menggunakan kapal ferry (boat). Tak cukup bagi dia( penanya ) yang sangat menggemari kaum hawa dengan hanya menanyakan daerah asal, dia pun kembali bertanya dengan pertanyaan yang lumrah, “Kalau boleh tahu murid barunya cowok atau cewek ya?” Uang logam kembali menari diatas kertas sembari membacakan memperlihatkan kata –kata yang dimaksud si hantu. Senyum itu tiba-tiba munsul ketika para pecinta hawa mengeja kata YA. Berarti ada seorang cewek yang akan menggunakan jasa kelas ini untuk menkmati kurikulum pendidikan di sekolah ini. Permainan berakhir ketika Rio mengucapkan” Terima kasih ya dek atas bincang-bincangnya kali ini.. Sekarang kamu pulang dulu ya..”, dengan segera kedua orang pemain menggerakkan logam ke basecamp yang beruliskan “HOME” yang berada di ujung bawah kertas. Bermacam macam komentar yang keluar dari mulut kami. Ada yang bilang komburlah, bongaklah, cita boraklah ( bohongan ) dan ada pula yang bilang “Barangkali ada benarnya, kita lihat saja nanti”.
Satu bulan berlalu dan tepat pada hari sabtu ketika para siswa berkumpul di lapangan untuk melakukan senam massal, ada perempuan yang tak dikenal masuk di barisan kelas kami. Pakaian olahraga yang be rwarna biru, cukup contras dengan kami yang berwarna kuning melambangkan perahu lancang kuning khas daerah Riau. Dia hanya diam dan tanpa senyum mengikuti gerakan senam yang diperagakan pesenam didikan Pak Jack, guru olahraga kami.
Ketika pembelajaran dimulai, pas banget pada saat itu guru walikelas kami yang mengajar. Anak baru itu disuruh memperkenalkan dirinya. Namanya Tika (samaran), pindah sekolah karena sakit dan yang lebih mengejutkan lagi dia pindahan dari salah satu sekolah ternama di Bengkalis. Semua anak laki2 dikelasku saling memandang heran dan ada juga sebagian yang berbisik ke yang lainnya. Ternyata anak ini sudah lama tinggal di Dumai, tapi sejak naik Smp dia pindah ke bengkalis dan tinggal bersama saudaranya.
Alasan dia pindah ke sekolah ini adalah agar bisa diurus oleh orang tuanya sendiri karena dia sering sakit. “Sakit apa ya? Sampai harus pindah sekolah segala”, dalam hati ku bergumam. Sekilas kuperhatikan dia, kelihatannya pendiam, apa karna masih baru ya, dan wajah tak pernah luput dari kata “pucat”. Berbeda dengan teman satu kelompok yang duduk disampingnya, supel, cerewet dan sedikit centil. Dua hari berlalu sudah, masih saja tidak mau bergabung dengan anak anak lainnya, dia hanya mau mengobrol dengan teman yang duduk disampingnya. Kelas kami ada 20 orang murid yang dibagi dalam 5 kelompok, berbeda dengan kelas yang lain yang ditempati 25 sampai 30 murid. Kelas exclusive kata warga sekolah ini. Kelas kami salah satu dari dua kelas exclusive yang ada. Tak semua murid bisa masuk kelas ini, karena setiap tahun akan diseleksi menurut peringkat dan prestasi yang diraih di kelas satu. Ilmu Alam nama kelas exclusive itu, kelas yang diisi oleh orang-orang yang katanya memiliki kelebihan di otak bagian kiri.
Anak baru itu pun pernah bercerita kepada teman sebangkunya( Kurnia namanya ) bahwa di sekolahnya yang dulu dia selalu mendapat ranking pertama. Pantas saja dia masuk kelas ini tanpa melalui test atau peneleksian. Tak itu saja dia banyak bercerita kepada Nia bahwa dia punya penyakit yang aneh dan kambuh setiap jam sepuluh pagi tapi ia tak pernah bilang sakit apa. Ia hanya bilang kalau sakitnya kambuh agar dibiarin saja, karna nanti akan sembuh sendiri.
Di kantin para lelaki kelas kami sering bergossip semenjak kedatangan murid baru itu. Kami berprasangka bahwasanya ada penghuni di kelas kami itu, dan penghuni ini punya hubungan dengan murid baru.
Pagi itu ketika kami sedang istirahat pertama sekitar jam setengah 10, tepat 5 hari setelah kedatangannya. Beberapa anak menghabiskan istirahatnya di dalam kelas, termasuk diriku yang jarang ke luar kelas pada saat jam istirahat pertama. Kulihat anak baru itu sudah mulai berbincang bincang dengan 3 orang temanku , satu cowok dan 2 orang cewk. Mereka duduk dalam satu meja kelompok yang terletak paling belakang di sudut ruangan. Mula mula anak baru itu ngobrol dengan Alex, cowok yang duduk satu meja dengannya tapi bersebrangan duduknya. Kemudian dengan Elvi yang duduk disampingnya. Dan setelah itu mereka diam sibuk dengan aktivitasnya masing masing. Ada yang makan, belajar, dengerin musik di hp dan kulihat anak baru itu hanya melamun. Ada yang aneh dengan lamunannya itu, roman mukanya berubah seketika, pucat dan matanya meloto seperti orang marah. Ia memperhatikan teman teman disekitarnya dengan mata yang sangat mengerikan. Aku yang berjarak 6 meter dengannya ingin bertanya dari kejauhan, tapi niat itu kuurungkan takut kalau kalau ia tersinggung. Tak berapa lama aku berpikir, dia telah mengamuk sambil menagis sambil memukul punggung teman yang ada disampingnya itu. Kontan si Elvi yang orangnya suka kaget menjerit seketika. Jeritan itu memecahkan kesunyian kelas itu. Kemudian murid yang berada di kelas berdiri mngelilingi Tika, sementara Tika sendiri terus saja duduk sambil mengamuk dan menangis seperti anak kecil. Terdengar suara yang lebih halus dari biasanya, suaranya mengisyaratkan kalau ia pengen pulang. Persis seperti anak kecil minta pulang sama mamanya kalau diajak jalan.
Kelasku menjadi heboh, tapi hanya teman teman sekelasku saja yang melihat kejadian ini karena anak kelas lain sudah masuk, tak ada lagi yang brkeliaran, di luar kelas pun terlihat sepi. Sementara itu guru yang akan mengajar belum juga dating, ketua kelas mengambil inisiatif untuk memanggil guru Agama yang kebetulan sedang mengajar di kelas sebelah. “Pak permisi sebentar , ada yang kesurupan di kelas kami”. Kemudian guru itu malah bertanya, “Kenapa harus saya yang kalian cari?”. “Panggil aja Kepsek atau Wakasek, biar mereka percaya dengan makhluk halus yang ada di sekolah kita”. Pak guru ini trlihat agak marah, karena belakangan ini terdengar gossip bahwa dia dipanggil Kepsek karena dituduh menakuti anak anak dengan cara me-ruqiyah salah satu murid ketika sedang mengajar.
Akhirnya Kepsek dan Wakasek bagian kurikulum yang terkenal galak itu dating ke kelas kami. Seolah tak percaya Pak Kepsek menyentuh Kening Tika seraya berkata, “paling Cuma demam biasa”. “Ughh” Tika bergumam sambil menyingkirkan tangan Pak Kepsek dari keningnya. Tika kemudian memelototi pak Kepsek dengan mata yang hamper keluar itu. Pak Kepsek pun panik. Sebelumnya ada seorang murid yang notabenen adalah teman sebangkuku di kelompok yang berusaha mengusir seytan atau hantu yang bersarang ditubuh Tika, tapi tak berhasil. Teman sebbangkuku ini bernama iko, dia memang sangat suka hal hal gaib dan dunia perdukunan. Beberapa murid di sekolah ini juga pernah meminta bantuannya untuk meramal benda yang hilang. Pernah suatu ketika helm seorang murid hilang, dan murid itu berkonsultasi kepada Iko. Alhasil identitas pencuri itu terungkap, dan akhirnya pencurinya yang juga seorang murid di sekolah ini mengakui perbuatannya.
Pada saat semua orang di kelas itu bingung harus ngapain, Pak guru Agama( Pak Hasan ) itu akhirnya menunjukkan batang hidungnya di depan Kepsek dan Wakasek. Ketika Pak Hasan datang, amukan dan tangisan Tika semakin menjadi jadi. Dan lama lama kelamaan Tika pingsan, kemudian digoto
ng ke Mesjid.
Uang logam itu mulai bergerak, semua mata yang menonton tertuju pada benda itu. “Kau yang gerakin ya?”.” Gak ah bukan aku”. Ini dialog yang sering kali muncul dalam dunia perjelangkungan dan menandakan bahwa makhluk yang dipanggil telah datang. Sebenarnya inilah saat saat yang mengasyikkan sekaligus mendebarkan, karena pada saat itu rasa penasarn kembali memacu hormon adrenalin kita. Salah satu dari mereka berdua bertanya ”Nama kamu siapa? Dan pada saat meninggal kamu umur berapa?”. Uang logam bergerak pelan menunjukkan huruf –huruf dan angka angka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dan kemudian berhenti. “Nina, 4” maksudnya namanya Nina dan berumur 4 tahun. “Apakah hantu anak TK nol kecil sudah bisa ngerti bacaan?”, hatiku kembali bertanya, ada sebagian penonton mendesis pelan karna takut kalau berbicara keras akan diikuti ketika pulang ke rumah. Dalam permainan etika juga harus dijaga baik itu si pemain ataupun yang menonton.
Akhirnya karena penasaran, yang menonton pun ikut melontarkan sebuah pertanyaan, “Apa kelas ini aka ada murud baru pindahan?”. Maklumlah pada saat itu sekolah kami khususnya kelas 2 banyak murid pindahan dari daerah lain yang masuk di awal semester. Terlebih lagi hanya kelas kami yang belum pernah dimasuki murid baru diantara kelas-kelas yang lain.
Hantu anak perempuan ini pun menjawab dengan menggerakkan uang ke kata YA.” Pindahan dari daerah mana?” balas si penanya. Uang logam bergerak kea rah dimana huruf berkumpul dan menunjukkan sebuah kata “ B E N G K A L I S”. Kota sebrang yang tak jauh dari Dumai, hanya memakan 1 jam untuk pergi ke sana dengan menggunakan kapal ferry (boat). Tak cukup bagi dia( penanya ) yang sangat menggemari kaum hawa dengan hanya menanyakan daerah asal, dia pun kembali bertanya dengan pertanyaan yang lumrah, “Kalau boleh tahu murid barunya cowok atau cewek ya?” Uang logam kembali menari diatas kertas sembari membacakan memperlihatkan kata –kata yang dimaksud si hantu. Senyum itu tiba-tiba munsul ketika para pecinta hawa mengeja kata YA. Berarti ada seorang cewek yang akan menggunakan jasa kelas ini untuk menkmati kurikulum pendidikan di sekolah ini. Permainan berakhir ketika Rio mengucapkan” Terima kasih ya dek atas bincang-bincangnya kali ini.. Sekarang kamu pulang dulu ya..”, dengan segera kedua orang pemain menggerakkan logam ke basecamp yang beruliskan “HOME” yang berada di ujung bawah kertas. Bermacam macam komentar yang keluar dari mulut kami. Ada yang bilang komburlah, bongaklah, cita boraklah ( bohongan ) dan ada pula yang bilang “Barangkali ada benarnya, kita lihat saja nanti”.
Satu bulan berlalu dan tepat pada hari sabtu ketika para siswa berkumpul di lapangan untuk melakukan senam massal, ada perempuan yang tak dikenal masuk di barisan kelas kami. Pakaian olahraga yang be rwarna biru, cukup contras dengan kami yang berwarna kuning melambangkan perahu lancang kuning khas daerah Riau. Dia hanya diam dan tanpa senyum mengikuti gerakan senam yang diperagakan pesenam didikan Pak Jack, guru olahraga kami.
Ketika pembelajaran dimulai, pas banget pada saat itu guru walikelas kami yang mengajar. Anak baru itu disuruh memperkenalkan dirinya. Namanya Tika (samaran), pindah sekolah karena sakit dan yang lebih mengejutkan lagi dia pindahan dari salah satu sekolah ternama di Bengkalis. Semua anak laki2 dikelasku saling memandang heran dan ada juga sebagian yang berbisik ke yang lainnya. Ternyata anak ini sudah lama tinggal di Dumai, tapi sejak naik Smp dia pindah ke bengkalis dan tinggal bersama saudaranya.
Alasan dia pindah ke sekolah ini adalah agar bisa diurus oleh orang tuanya sendiri karena dia sering sakit. “Sakit apa ya? Sampai harus pindah sekolah segala”, dalam hati ku bergumam. Sekilas kuperhatikan dia, kelihatannya pendiam, apa karna masih baru ya, dan wajah tak pernah luput dari kata “pucat”. Berbeda dengan teman satu kelompok yang duduk disampingnya, supel, cerewet dan sedikit centil. Dua hari berlalu sudah, masih saja tidak mau bergabung dengan anak anak lainnya, dia hanya mau mengobrol dengan teman yang duduk disampingnya. Kelas kami ada 20 orang murid yang dibagi dalam 5 kelompok, berbeda dengan kelas yang lain yang ditempati 25 sampai 30 murid. Kelas exclusive kata warga sekolah ini. Kelas kami salah satu dari dua kelas exclusive yang ada. Tak semua murid bisa masuk kelas ini, karena setiap tahun akan diseleksi menurut peringkat dan prestasi yang diraih di kelas satu. Ilmu Alam nama kelas exclusive itu, kelas yang diisi oleh orang-orang yang katanya memiliki kelebihan di otak bagian kiri.
Anak baru itu pun pernah bercerita kepada teman sebangkunya( Kurnia namanya ) bahwa di sekolahnya yang dulu dia selalu mendapat ranking pertama. Pantas saja dia masuk kelas ini tanpa melalui test atau peneleksian. Tak itu saja dia banyak bercerita kepada Nia bahwa dia punya penyakit yang aneh dan kambuh setiap jam sepuluh pagi tapi ia tak pernah bilang sakit apa. Ia hanya bilang kalau sakitnya kambuh agar dibiarin saja, karna nanti akan sembuh sendiri.
Di kantin para lelaki kelas kami sering bergossip semenjak kedatangan murid baru itu. Kami berprasangka bahwasanya ada penghuni di kelas kami itu, dan penghuni ini punya hubungan dengan murid baru.
Pagi itu ketika kami sedang istirahat pertama sekitar jam setengah 10, tepat 5 hari setelah kedatangannya. Beberapa anak menghabiskan istirahatnya di dalam kelas, termasuk diriku yang jarang ke luar kelas pada saat jam istirahat pertama. Kulihat anak baru itu sudah mulai berbincang bincang dengan 3 orang temanku , satu cowok dan 2 orang cewk. Mereka duduk dalam satu meja kelompok yang terletak paling belakang di sudut ruangan. Mula mula anak baru itu ngobrol dengan Alex, cowok yang duduk satu meja dengannya tapi bersebrangan duduknya. Kemudian dengan Elvi yang duduk disampingnya. Dan setelah itu mereka diam sibuk dengan aktivitasnya masing masing. Ada yang makan, belajar, dengerin musik di hp dan kulihat anak baru itu hanya melamun. Ada yang aneh dengan lamunannya itu, roman mukanya berubah seketika, pucat dan matanya meloto seperti orang marah. Ia memperhatikan teman teman disekitarnya dengan mata yang sangat mengerikan. Aku yang berjarak 6 meter dengannya ingin bertanya dari kejauhan, tapi niat itu kuurungkan takut kalau kalau ia tersinggung. Tak berapa lama aku berpikir, dia telah mengamuk sambil menagis sambil memukul punggung teman yang ada disampingnya itu. Kontan si Elvi yang orangnya suka kaget menjerit seketika. Jeritan itu memecahkan kesunyian kelas itu. Kemudian murid yang berada di kelas berdiri mngelilingi Tika, sementara Tika sendiri terus saja duduk sambil mengamuk dan menangis seperti anak kecil. Terdengar suara yang lebih halus dari biasanya, suaranya mengisyaratkan kalau ia pengen pulang. Persis seperti anak kecil minta pulang sama mamanya kalau diajak jalan.
Kelasku menjadi heboh, tapi hanya teman teman sekelasku saja yang melihat kejadian ini karena anak kelas lain sudah masuk, tak ada lagi yang brkeliaran, di luar kelas pun terlihat sepi. Sementara itu guru yang akan mengajar belum juga dating, ketua kelas mengambil inisiatif untuk memanggil guru Agama yang kebetulan sedang mengajar di kelas sebelah. “Pak permisi sebentar , ada yang kesurupan di kelas kami”. Kemudian guru itu malah bertanya, “Kenapa harus saya yang kalian cari?”. “Panggil aja Kepsek atau Wakasek, biar mereka percaya dengan makhluk halus yang ada di sekolah kita”. Pak guru ini trlihat agak marah, karena belakangan ini terdengar gossip bahwa dia dipanggil Kepsek karena dituduh menakuti anak anak dengan cara me-ruqiyah salah satu murid ketika sedang mengajar.
Akhirnya Kepsek dan Wakasek bagian kurikulum yang terkenal galak itu dating ke kelas kami. Seolah tak percaya Pak Kepsek menyentuh Kening Tika seraya berkata, “paling Cuma demam biasa”. “Ughh” Tika bergumam sambil menyingkirkan tangan Pak Kepsek dari keningnya. Tika kemudian memelototi pak Kepsek dengan mata yang hamper keluar itu. Pak Kepsek pun panik. Sebelumnya ada seorang murid yang notabenen adalah teman sebangkuku di kelompok yang berusaha mengusir seytan atau hantu yang bersarang ditubuh Tika, tapi tak berhasil. Teman sebbangkuku ini bernama iko, dia memang sangat suka hal hal gaib dan dunia perdukunan. Beberapa murid di sekolah ini juga pernah meminta bantuannya untuk meramal benda yang hilang. Pernah suatu ketika helm seorang murid hilang, dan murid itu berkonsultasi kepada Iko. Alhasil identitas pencuri itu terungkap, dan akhirnya pencurinya yang juga seorang murid di sekolah ini mengakui perbuatannya.
Pada saat semua orang di kelas itu bingung harus ngapain, Pak guru Agama( Pak Hasan ) itu akhirnya menunjukkan batang hidungnya di depan Kepsek dan Wakasek. Ketika Pak Hasan datang, amukan dan tangisan Tika semakin menjadi jadi. Dan lama lama kelamaan Tika pingsan, kemudian digoto
ng ke Mesjid.Insyaallah sambungan cerita ini akan ditampilkan pada posting berikutnyA.
lUMAYAN CAPEK NGETIKNYA BRO..
Tributed to XII ipa 1 tahun 2007-2008

