Sekapur Sirih
izinkan hamba memulai awal permulaan perkataan in dengan sekapur sirih ini
Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatu.
Di zaman yang terang benderang oleh ilmu pengetahuan seperti sekarang ini pastilah takkan pernah luput dari perkembangan peradaban manusia. Peradaban itu sendiri berkembang karena adanya evolusi otak manusia dari waktu ke waktu, yaitu pengembangan nafs manusia yang bersifat kreatif dan inovatif, sehingga dalam Al-Quran disebutkan bahwasanya manusia bisa lebih mulia dari malaikat jika jiwa (nafs) itu sendiri selalu dibekali dengan ilmu yang dapat megubah dan mengembangkan dunia tanpa mengurangi rasa mahabbah kepada Allah swt. Nafs manusia selalu dipengaruhi oleh Roh yang sejatinya adalah sesuatu yang suci dan baik. Ruh mempengaruhi jiwa (nafs), sedangkan jiwa mempengaruhi Jasmani manusia ( Roh => Nafs => Badaniyah ).
Tapi janganlah heran apabila seorang manusia sendiri tidak tahu banyak tentang roh, karena memang otak manusia tidak mampu menjangkaunya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah," Qulirruhu min amri rabbi wamaa utiitum minal ilmi illa qaliila", "Katakanlah, roh itu termasuk urusan tuhanku dan kamu tidaklah diberi pengetahuan melainkan sedikit" (Al-Isra ; 85).
Ayat diatas menunnjukkan bahwa ruh itu adalah misteri yang belum bisa dijamah oleh kita sebagai manusia, oleh karena itu website ini akan memaparkan sedikit kajian tentan ruh walaupun tulisan ini masih jauh banyak kekurangan. Tidak ada sempurna di dunia seperti website ini, kalaupun ada pasti hanya dalam kerelatifan manusia bukan kemutlakan dari Allah swt.
Wabillahitaufiq walhidayah, wassalamualaikum warahmatullahiwabarakatu.
Ruh ManusiaDi zaman yang terang benderang oleh ilmu pengetahuan seperti sekarang ini pastilah takkan pernah luput dari perkembangan peradaban manusia. Peradaban itu sendiri berkembang karena adanya evolusi otak manusia dari waktu ke waktu, yaitu pengembangan nafs manusia yang bersifat kreatif dan inovatif, sehingga dalam Al-Quran disebutkan bahwasanya manusia bisa lebih mulia dari malaikat jika jiwa (nafs) itu sendiri selalu dibekali dengan ilmu yang dapat megubah dan mengembangkan dunia tanpa mengurangi rasa mahabbah kepada Allah swt. Nafs manusia selalu dipengaruhi oleh Roh yang sejatinya adalah sesuatu yang suci dan baik. Ruh mempengaruhi jiwa (nafs), sedangkan jiwa mempengaruhi Jasmani manusia ( Roh => Nafs => Badaniyah ).
Tapi janganlah heran apabila seorang manusia sendiri tidak tahu banyak tentang roh, karena memang otak manusia tidak mampu menjangkaunya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah," Qulirruhu min amri rabbi wamaa utiitum minal ilmi illa qaliila", "Katakanlah, roh itu termasuk urusan tuhanku dan kamu tidaklah diberi pengetahuan melainkan sedikit" (Al-Isra ; 85).
Ayat diatas menunnjukkan bahwa ruh itu adalah misteri yang belum bisa dijamah oleh kita sebagai manusia, oleh karena itu website ini akan memaparkan sedikit kajian tentan ruh walaupun tulisan ini masih jauh banyak kekurangan. Tidak ada sempurna di dunia seperti website ini, kalaupun ada pasti hanya dalam kerelatifan manusia bukan kemutlakan dari Allah swt.
Wabillahitaufiq walhidayah, wassalamualaikum warahmatullahiwabarakatu.
Al Qur'an telah membahas tentang hakekat asal-usul manusia yang di awali dari proses kejadian manusia yaitu dari a’laqah ( melekatnya sperma pada ovum ) (QS. Al Alaq:1-5), dan setelah melewati beberapa tahapan dan sempurna kejadiannya, dihembuskan-Nyalah kepadanya ruh ciptaan Tuhan (QS. Shaad:71-72).
Dari ayat-ayat di atas menjadi jelas bahwa hakikat manusia terdiri dari dua unsur pokok yakni, campuran tanah ( تراب =debu, طين = lumpur, طين لازيب =tanah liat, حامسنون =tanah cadas,كالفجار صلصال =tembikar ) dan hembusan ruh (immateri). Di mana antara satu dengan satunya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan agar dapat di sebut manusia. Dalam perspektif sistem nafs, ruh menjadi faktor penting bagi aktivitas nafs manusia ketika hidup di muka bumi ini, sebab tanpa ruh, manusia sebagai totalitas tidak dapat lagi berpikir dan merasa.
Ruh adalah zat murni yang tinggi, suci, hidup dan hakekatnya berbeda dengan tubuh. Tubuh dapat diketahui dengan pancaindra manusia, sedangkan ruh menelusup ke dalam tubuh sebagaimana menyelusupnya air ke dalam bunga, tidak larut dan tidak terpecah-pecah. Untuk memberi kehidupan pada tubuh selama tubuh mampu menerimanya. Sudah lama "kemisteriusan" ruh menjadi perdebatan di kalangan ulama, teolog, filosof dan ahli sufi yang berusaha menyingkap dan menggali keberadaannya. Mereka mencoba mengupas dan mengulitinya guna mendapatkan kepastian tentang hakekat ruh. Dalam bahasa Arab, kata ruh mempunyai banyak arti.
* Kata حور untuk ruh
* Kata حير (rih) yang berarti angin
* Kata حور (rawh) yang berarti rahmat
* Ruh dalam bahasa Arab juga digunakan untuk menyebut jiwa, nyawa, nafas, wahyu, perintah dan rahmat. Jika kata ruhani dalam bahasa Indonesia digunakan untuk menyebut lawan dari dimensi jasmani, maka dalam bahasa Arab kalimat “Rahaniyun”
Akan tetapi hakikat ruh yang sebenarnya tidak akan bisa dijangkau oleh akal pikiran manusia, karena sudah merupakan suatu ketentuan Allah bahwasanya urusan roh bukanlah urusan manusia. Jawaban singkat al-Qur'an atas pertanyaan itu (lihat QS. Al-Isra': 85), menunjukkan bahwa ruh akan tetap menjadi "rahasia" yang kepastiannya hanya bisa diketahui oleh Allah semata.
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al-Isra': 85)
Ada kalangan yang bersikukuh bahwa hakikat manusia adalah jasad fisiknya. Ada yang beranggapan bahwa jasad dan ruh terwujud serentak sebagai hakikat pembentuk manusia. Sementara kalangan lain berhujah dengan tak kalah argumentatif bahwa ruh adalah jati dirinya.
Sebenarnya al-Quran telah menyebutkan adanya dimensi lain selain materi pada manusia yang disebut dengan ruh.
Sebagaimana yang terkandung dalam ayat berikut ini, “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ruh-Nya ke dalamnya dan Dia menjadikan untuk kalian pendengaran, penglihatan dan hati tetapi sedikit sekali kalian bersyukur”( QS.As Sajadah:9 ).
Kalimat “meniupkan ruh-Nya ke dalamnya” dalam ayat di atas menunjukkan adanya dimensi yang bernama ruh pada manusia. Bisa kita ambil kesimpulan dari ayat di atas bahwa setelah menyebutkan tentang peniupan ruh kemudian menyebutkan tentang telinga, mata dan hati. Penyebabnya adalah karena sumber yang menggerakkan jiwa (nafs) adalah ruh, begitu juga dengan sumber asli perbuatan anggota badan tersebut adalah ruh, sehingga menghasilkan gejala-gejala.
Ayat lain yang mengisyaratkan adanya ruh pada manusia terdapat dalam ayat berikut ini, “Dan apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ruh-Ku ke dalamnya maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud” (QS. Al Hijr:29).
“Aku meniupkan ruh-Ku”. Ada dua aliran yang mempunyai perbedaan penafsiran ayat ini. Kaum Suni eksterralis view berpendapat bahwa ruh yang dimasukan ke dalam jasad manusia adalah ruh yang diciptakan oleh Allah khusus untuk manusia. Sedangkan kaum Sufi sunni (Sunni Esoteris) dan kaum syiah berpendapat bahwasanya ruh manusia berasal dari ruh Allah itu sendiri.
Penulis sendiri berpendapat bahwa Allah bukan ruh sehingga harus memasukkan sebagian ruh-Nya ke dalam tubuh manusia, akan tetapi yang dimaksud oleh al-Quran dengan penjelasan ini adalah kemuliaan dan ketinggian ruh itu sendiri. Yakni ruh begitu bernilai bagi manusia sehingga Allah menghubungkannya dengan diri-Nya dan mengatakan, “Aku meniupkan kepadanya ruh-Ku”. Bisa kita jelaskan dengan contoh lain seperti masjid adalah rumah Allah. Kita tahu bahwa masjid bukan rumah Allah, karena Dia bukan materi sehingga harus membutuhkan tempat tinggal, akan tetapi maksudnya adalah nilai dan pentingnya masjid sehingga disebut dengan rumah Allah. Contoh lain seperti majelis rakyat juga disebut sebagai rumah rakyat.
Ada ayat lain yang mengisyaratkan tentang wujudnya ruh, “Demi nafs (ruh, jiwa) dan penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan jalan kefasikan dan jalan ketakwaannya” ( As Syams:7-8 ).
Ayat ini menjelaskan bahwa nafs manusia bisa bertaqwa kepada Allah swt dan bisa juga berbuat ingkar, sebab Allah telah memberikan suatu kebebasan untuk menjalani kehidupan di muka bumi ini. Tetapi kembali kepada hakikat ruh itu sendiri bahwa ruh itu selalu suci dan kudus. Ruh yang diberikan Allah adalah suatu bibit potensi manusia untuk beriman kepada Allah. Bahasa ruh bersifat inspiratif yang mendorong nafs untuk selalu berbuat kebaikan, dan bahasa ruh ( nuraniyun ) itu sendiri dapat diperkuat melalui ibadah kepada Allah.
Pendapat menurut Al Ghazali dan Ibnu Qayyim Al Jauziah
1. Al Ghazali
Al-Ghazali membagi jiwa menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Jiwa nabati (al-nafs al-nabatiyah), yaitu kesempurnaan awal baqgi benda alami yang hidup dari segi makan, minum, tumbuh dan berkembang.
2. Jiwa hewani (al-nafs al-hayawaniyah), yaitu kesempurnaan awal bagi benda alami yang hidup dari segi mengetahui hal-hal yang kecil dan bergerak dengan iradat (kehendak).
3. Jiwa insani (al-nafs al-insaniyah), yaitu kesempurnaan awal bagi benda yang hidupdari segi melakukan perbuatan dengan potensi akal dan pikiran serta dari segi mengetahui hal-hal yang bersifat umum.
Jiwa insani inilah, menurut al-Ghazali di sebut sebagai ruh (sebagian lain menyebutnya al-nafs al-natiqah/jiwa manusia). Ia sebelum masuk dan berhubungan dengan tubuh disebut ruh, sedangkan setelah masuk ke dealam tubuh dinamakan nafs yang mempunyai daya (al-'aql), yaitu daya praktik yang berhubungan dengan badan daya teori yang berhubungan dengan hal-hal yang abstrak. Selanjutnya al-Ghazali menjelaskan bahwa kalb, ruh dan al-nafs al mutmainnah merupakan nama-nama lain dari al-nafs al-natiqah yang bersifat hidup, aktif dan bisa mengetahui.
Ruh menurut al-Ghazali terbagi menjadi dua, pertama yaitu di sebut ruh hewani, yakni jauhar yang halus yang terdapat pada rongga hati jasmani dan merupakan sumber kehidupan, perasaan, gerak, dan penglihatan yang dihubungkan dengan anggota tubuh seperti menghubungkan cahaya yang menerangi sebuah ruangan. Kedua, berarti nafs natiqah, yakni memungkinkan manusia mengetahui segala hakekat yang ada. Al-Ghazali berkesimpulan bahwa hubungan ruh dengan jasad merupakan hubungan yang saling mempengaruhi.
Di sini al-Ghazali mengemukakan hubungan dari segi maknawi karena wujud hubungan itu tidak begitu jelas. Lagi pula ajaran Islam tidak membagi manusia dalam kenyataan hidupnya pada aspek jasad, akal atau ruh, tetapi ia merupakan suatu kerangka yang saling membutuhkan dan mengikat; itulah yanmg dinamakan manusia.
2. Ibnu Qayyim Al Jauziah
Ibn Qayyim al-Jauziyah menggunakan istilah ruh dan nafs untuk pengertian yang sama. Nafs (jiwa) adalah substansi yang bersifat nurani 'alawi khafif hayy mutaharrik atau jism yang mengandung nur, berada di tempat yang tinggi, lembut, hidup dan bersifat dinamis. Jizm ini menembus substansi anggota tubuh dan mengalir bagaikan air atau minyak zaitun atau api di dalam kayu bakar. Selama anggota badan dalam keadaan baik untuk menerima pengaruh yang melimpah di atasnya dari jism yang lembut ini, maka ia akan tetap membuat jaringan dengan bagian-bagian tubuh. Kemudian pengaruh ini akan memberinya manfaat berupa rasa, gerak dan keinginan.
Ibn Qayyim menjelaskan pendapat banyak orang bahwa manusia memiliki tiga jiwa, yaitu nafs mutmainnah, nafs lawwamah dan nafs amarah. Ada orang yang dikalahkan oleh nafs mutmainnah, dan ada yang dikalahkan oleh nafs ammarah.
Mereka berargumen dengan firman Allah:
Wahai jiwa yang tenang (nafs mutmainnah) ...
(QS. Al-Fajr: 27).
Aku sungguh-sungguh bersumpah dengan hari kiamat dan aku benar-benar bersumpah dengan jiwa lawwamah
(QS. al-Qiyamah: 1-2)
Sesungguhnya jiwa itu benar-benar menyuruh kepada keburukan (nafs ammarah)
(QS. Yusuf: 53)
Ibn Qayyim menjelaskan bahwa sebenarnya jiwa manusia itu satu, tetapi memiliki tiga sifat dan dinamakan dengan sifat yang mendominasinya. Ada jiwa yang disebut mutmainnah (jiwa yang tenang) karena ketenangannya dalam beribadah, ber-mahabbah, ber-inabah, ber-tawakal, serta keridhaannya dan kedamaiannya kepada Allah. Ada jiwa yang bernama nafs lawwamah, karena tidak selalu berada pada satu keadaan dan ia selalu mencela; atau dengan kata lain selalu ragu-ragu, menerima dan mencela secara bergantian. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa nafs lawwamah dinamakan demikian karena orangnya sering mencela. Sedangkan nafs ammarah adalah nafsu yang menyuruh kepada keburukan. Jadi, jiwa manusia merupakan satu jiwa yang terdiri dari ammarah, lawwamah dan mutmainnah yang menjadi tujuan kesempurnaan dan kebaikan manusia.
Sumber
Religion Lecture from Prof. Dr. Hanif Saha Ghafur
Bibel, Al Quran, dan Sains Modern : Dr. Maurice Bucaille
Asal Usul Kejadian Manusia : Dr. Maurice Bucaille
http://search.google.com/


Semoga bermanfaat.
BalasHapus